Gerakan 1 Hari, 1 Mukro Baca Al-Quran merupakan sebuah manifestasi atas rasa prihatin saya melihat saat ini sudah sangat minim sekali perhatian kamu muda terhadap pentingnya baca Al-Quran. Bahkan di lingkungan saya tinggal pun saat ini sangat minim sekali minat baca kitab suci ini, berbeda sekali pada saat saya dulu masih "bau kencur" dan masih ada orang tua yang peduli dengan baca Al Quran.
Gerakan di atas sebenarnya ingin lebih memacu diri saya secara pribadi, karena selama ini saya sangat kurang sekali membuka dan membaca Al Quran yang sejak saya lahir telah diperdengarkan dan dikenalkan oleh orang tua saya. Gerakan 1 Hari, 1 Mukro Baca Al-Quran tersebut ingin sekali saya implementasikan dalam kehidupan saya. Bahkan saya punya tekad untuk baca Quran minimal 1 mukro dalam tiap harinya. Ya itu adalah kalau orang Tegal bilang "males - malese wong maca".
Ya mudah - mudahan artikel singkat ini bisa memberikan motifasi kepada diri saya untuk lebih menghargai apa yang telah saya peroleh dari orang tua saya. Serta bukan hanya sekedar ritual belaka, namun bisa menjadi kewajiban yang memang menjadi kebiasaan yang menuntun ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Monday, November 23, 2009
Tuesday, November 10, 2009
20 JUTA UNTUK USAHA
Kira – kira bagaimana mendapatkan uang sebegitu besarnya dalam waktu yang amat singkat karena terdesak ingin sekali membuka sebuah usaha. Memang untuk saya pribadi uang dengan nilai demikian adalah jumlah yang sangat luar biasa besarnya, entah bagi orang yang tiap jamnya berpenghasilan sebesar itu. Apakah ada ya mungkin ada. Wallahu a’lam.
Dari dulu saya ingin sekali mandiri dengan mencoba membuka usaha sendiri, karena jujur saya tidak suka dan enggan sekali bila harus bekerja di bawah bayang – bayang orang lain. Ya watak itu sudah kental dan muncul dari kecil. Apalagi banyak sekali melihat anak muda seusia saya sudah memiliki usaha sendiri,jadi iri dan ingin sekali bisa seperti mereka.
Menurut saya berdiri di atas bara api lebih baik daripada berdiri di atas permadani milik orang lain. Entah sebuah kesombongan atau apalah namanya yang terpenting saya suka sekali bila bekerja bukan untuk orang lain. Selain itu juga saya memiliki keinginan untuk membantu teman – teman yang belum memiliki lahan untuk mendapatkan uang.
Ya itulah impian dan rencana ke depanku. Lagi bingung juga nih bagaimana dapet modalnya?tapi percaya aja lah ma yang kuasa. Kalo ada niat pasti ada jalannya.Amin.
Dari dulu saya ingin sekali mandiri dengan mencoba membuka usaha sendiri, karena jujur saya tidak suka dan enggan sekali bila harus bekerja di bawah bayang – bayang orang lain. Ya watak itu sudah kental dan muncul dari kecil. Apalagi banyak sekali melihat anak muda seusia saya sudah memiliki usaha sendiri,jadi iri dan ingin sekali bisa seperti mereka.
Menurut saya berdiri di atas bara api lebih baik daripada berdiri di atas permadani milik orang lain. Entah sebuah kesombongan atau apalah namanya yang terpenting saya suka sekali bila bekerja bukan untuk orang lain. Selain itu juga saya memiliki keinginan untuk membantu teman – teman yang belum memiliki lahan untuk mendapatkan uang.
Ya itulah impian dan rencana ke depanku. Lagi bingung juga nih bagaimana dapet modalnya?tapi percaya aja lah ma yang kuasa. Kalo ada niat pasti ada jalannya.Amin.
Ingin menulis ‘buku’ tutorial PHP
Ya. Keinginan yang sudah sejak lama dan belum bisa terwujud hingga sekarang. Tapi saya sudah mulai membuat kerangka untuk membuat sebuat tulisan pertama saya yang orisinal dalam bentuk buku (Insya Allah).
Pada awalnya saya tidak ingin membuat buku terlebih dahulu. Namun, ingin saya berikan ilmu saya secara gratis kepada siapa saja yang membutuhkan. Karena dari dulu saya ingin sekali memberikan ilmu yang saya miliki kepada orang lain yang butuh secara gratis.
yah mudah -mudahan saja bisa terealisir. atau jika tidak menjadi sebuah buku bisa memberikan pencerahan bagi siapa saja yang ingin belajar. AMin…
Pada awalnya saya tidak ingin membuat buku terlebih dahulu. Namun, ingin saya berikan ilmu saya secara gratis kepada siapa saja yang membutuhkan. Karena dari dulu saya ingin sekali memberikan ilmu yang saya miliki kepada orang lain yang butuh secara gratis.
yah mudah -mudahan saja bisa terealisir. atau jika tidak menjadi sebuah buku bisa memberikan pencerahan bagi siapa saja yang ingin belajar. AMin…
Jatuh dan salah langkah
Ada saja orang di dunia ini, tapi memang inilah kehidupan. Bermacam – macam tingkah laku manusia selalu ada – ada saja. Ada yang sedang di puncak, ada yang sedang menapak ke arah puncak, dan juga ada yang jatuh di bawah sekali.
Namun yang bikin saya heran, kenapa saat orang sedang berada di puncak lebih banyak lupa daratan?Dan apa yang telah saya lihat merupakan cerminan sebuah tingkah laku manusia yang kurang punya nurani dan tidak bisa berbesar hati menerima keadaan.
Ya betul. Orang yang dahulunya berada di puncak, berada di bawah payung kemakmuran. Malah tidak bisa memanfaatkan apa yang sedang diperoleh, tidak mampu bijaksana mengatur keadaan yang sedang terjadi. Boros, foya -foya, seneng – seneng terus tanpa mau berfikir yang akan terjadi setelah semuanya berakhir.
Jatuh dan salah langkah.
Orang yang seperti itulah yang kemudian baru menyadari saat semuanya telah berakhir. Baru terjaga saat semuanya hilang tanpa ada sisa. Jatuh ke sebuah keadaan yang tidak dia pikirkan saat berada di puncak. Salah langkah menyikapi keadaan yang saat itu benar – benar memungkinkan untuk melakukan segala hal.
Ya saya tidak akan menghujat karena dia telah jatuh dan salah langkah. Saya tidak ingin menghujani dengan beribu kata hinaan. Tapi semua itu merupakan sebuah ilmu untuk saya dalam menjalani dan menyikapi hidup ini.
Mudah – mudahan cukup dia saja yang Jatuh dan salah langkah. Ya akan saya jadikan sebuah pelajaran hidup ini.
Namun yang bikin saya heran, kenapa saat orang sedang berada di puncak lebih banyak lupa daratan?Dan apa yang telah saya lihat merupakan cerminan sebuah tingkah laku manusia yang kurang punya nurani dan tidak bisa berbesar hati menerima keadaan.
Ya betul. Orang yang dahulunya berada di puncak, berada di bawah payung kemakmuran. Malah tidak bisa memanfaatkan apa yang sedang diperoleh, tidak mampu bijaksana mengatur keadaan yang sedang terjadi. Boros, foya -foya, seneng – seneng terus tanpa mau berfikir yang akan terjadi setelah semuanya berakhir.
Jatuh dan salah langkah.
Orang yang seperti itulah yang kemudian baru menyadari saat semuanya telah berakhir. Baru terjaga saat semuanya hilang tanpa ada sisa. Jatuh ke sebuah keadaan yang tidak dia pikirkan saat berada di puncak. Salah langkah menyikapi keadaan yang saat itu benar – benar memungkinkan untuk melakukan segala hal.
Ya saya tidak akan menghujat karena dia telah jatuh dan salah langkah. Saya tidak ingin menghujani dengan beribu kata hinaan. Tapi semua itu merupakan sebuah ilmu untuk saya dalam menjalani dan menyikapi hidup ini.
Mudah – mudahan cukup dia saja yang Jatuh dan salah langkah. Ya akan saya jadikan sebuah pelajaran hidup ini.
Waspada atau curiga atau Negatif Thinking
Mana mungkin bisa?
Sudah beberapa hari ini saya selalu mendapat komentar dari rekan kerja yang entah apa alasannya selalu bilang “waspada sama orang”. kata – kata itu selalu saja terucap tatkala saya sedang mulai mendapatkan teman baru. Ya entah itu dapat teman dari Facebook atau sekedar Call ke handphone saya. Tapi apa yang saya dapatkan kata – kata itu tadi.
Sehingga saya mulai berpikir, memang benar. saya setuju kita harus waspada terhadap siapapun, siapapun yang belum atau baru kita kenal.Okelah, dia beranggapan bahwa itu adalah sebuah wejangan yang “mungkin” dia pernah merasakan dihianati atau diacuhkan oleh orang yang dia percayai. Tapi, saya bukanlah tipe orang yang secara menyeluruh menghabisi seseorang dengan sebuah prasangka yang masih belum tentu benar.
Benar juga apa yang saya peroleh dari sharing kemaren malam. Bahwa orang terutama di Indonesia 95% adalah menyimpulkan. Dalam artian kita jarang mengolah, mencermati, meneliti, menelaah, mencoba menggali apa yang sebenarnya dengan sesuatu yang baru bahkan asing bagi kita. Dan 5% adalah orang yang mau mencermati dan mempunyai sugesti bahwa sebelum kenal betul kita haram, haram untuk menghabisi seseorang dengan kata – kata atau “kesimpulan” yang tidak atau barangkali belum tentu sepenuhnya benar.
Bagi saya pribadi tidak suka menilai seseorang dari awal pertemuan. Okelah ada sebagian mengatakan sikap pada pandangan pertama adalah cerminan kehidupan dia. Tapi bagi saya sebelum saya menelaah lebih lanjut haram untuk menghabisi seseorang dengan kesimpulan yang belum tentu benar.
Jadi, jika saya mendapat sebuah kata – kata seperti itu, serasa bukanlah cerminan hidup saya. Dan bertentangan dengan jiwa dan nurani saya.jadi sulit untuk saya cepat menyimpulkan seseorang dengan dugaan yang belum tentu benar.
Memang ada kalanya kita harus waspada, namun apakah pantas jika hanya melihat seseorang pada pandangan pertama?apakah layak menyimpulkan seseorang karena dia belum kita kenal betul?
Waspada = curiga = Negatif Thinking
jadi ketiga kata di atas saling berhubungan bukan lagi menggunakan atau sebagai kata penghubung. Tetapi dengan menggunakan penghubung sama dengan akan diperoleh kesimpulan: Waspada akan memunculkan Curiga. Jika kita terlampau curiga yang muncul adalah Selalu berpikir negatif dengan hal yang belum kita telaah dengan baik.
Sudah beberapa hari ini saya selalu mendapat komentar dari rekan kerja yang entah apa alasannya selalu bilang “waspada sama orang”. kata – kata itu selalu saja terucap tatkala saya sedang mulai mendapatkan teman baru. Ya entah itu dapat teman dari Facebook atau sekedar Call ke handphone saya. Tapi apa yang saya dapatkan kata – kata itu tadi.
Sehingga saya mulai berpikir, memang benar. saya setuju kita harus waspada terhadap siapapun, siapapun yang belum atau baru kita kenal.Okelah, dia beranggapan bahwa itu adalah sebuah wejangan yang “mungkin” dia pernah merasakan dihianati atau diacuhkan oleh orang yang dia percayai. Tapi, saya bukanlah tipe orang yang secara menyeluruh menghabisi seseorang dengan sebuah prasangka yang masih belum tentu benar.
Benar juga apa yang saya peroleh dari sharing kemaren malam. Bahwa orang terutama di Indonesia 95% adalah menyimpulkan. Dalam artian kita jarang mengolah, mencermati, meneliti, menelaah, mencoba menggali apa yang sebenarnya dengan sesuatu yang baru bahkan asing bagi kita. Dan 5% adalah orang yang mau mencermati dan mempunyai sugesti bahwa sebelum kenal betul kita haram, haram untuk menghabisi seseorang dengan kata – kata atau “kesimpulan” yang tidak atau barangkali belum tentu sepenuhnya benar.
Bagi saya pribadi tidak suka menilai seseorang dari awal pertemuan. Okelah ada sebagian mengatakan sikap pada pandangan pertama adalah cerminan kehidupan dia. Tapi bagi saya sebelum saya menelaah lebih lanjut haram untuk menghabisi seseorang dengan kesimpulan yang belum tentu benar.
Jadi, jika saya mendapat sebuah kata – kata seperti itu, serasa bukanlah cerminan hidup saya. Dan bertentangan dengan jiwa dan nurani saya.jadi sulit untuk saya cepat menyimpulkan seseorang dengan dugaan yang belum tentu benar.
Memang ada kalanya kita harus waspada, namun apakah pantas jika hanya melihat seseorang pada pandangan pertama?apakah layak menyimpulkan seseorang karena dia belum kita kenal betul?
Waspada = curiga = Negatif Thinking
jadi ketiga kata di atas saling berhubungan bukan lagi menggunakan atau sebagai kata penghubung. Tetapi dengan menggunakan penghubung sama dengan akan diperoleh kesimpulan: Waspada akan memunculkan Curiga. Jika kita terlampau curiga yang muncul adalah Selalu berpikir negatif dengan hal yang belum kita telaah dengan baik.
Ora Umum – Buang yang kecil untuk dapet yang Lebih besar
Ora Umum!!!
Dua kata untuk menggambarkan sebuah fenomena kehidupan yang baru saja saya temui.Mengapa demikian?Ya karena apa yang saya peroleh adalah kata-kata begitu tinggi yang membuat orang menjadi takjub dan bengong. Hanya membuang yang kecil demi mendapat yang lebih besar.
Coba bayangkan, apa itu bukan hal yang luar biasa, apa itu bukan hal yang sulit untuk dibayangkan. Hal kecil bisa mendatangan sesuatu yang luar biasa besar. Tapi masih ada yang mengganjal di hati saya. Apa itu?Satu hal yang masih belum saya terima adalah apa tujuan dari semua itu. Semua bicara kemakmuran, semua bicara hal keindahan dunia. Semua bicara hal yang makin membuat orang semakin hanyut dan hanyut akan kesenangan dunia.
Jujur saya bukan orang yang munafik, saya juga butuh uang. Saya butuh status sosial, saya juga ingin orang memandang saya adalah bahwa saya orang yang sukses dan memiliki banyak materi.
Oke saya coba berandai – andai.Jika uang sudah bukan masalah yang sulit bagi saya, jika materi bukan hal yang jauh untuk dikejar, jika kesenangan hidup sudah jadi teman bahkan sahabat dalam tiap detik kehidupan. Lalu bagaimana dengan hal rohaniah yang merupakan hal terpenting(menurut saya)?apa mungkin saya bisa menjadi bijaksana jikalau semua impian itu sudah nyata dihadapan mata?.
Ora umum..pasti ora umum.Semua seolah – olah layaknya sebuah “miracle” keajaiban yang hanya sedikit waktu bisa merubah nasib seseorang. Ora umum karena materi dan status sosial bisa menjadi sedemikian akrab mengisi setiap relung sendi kehidupan hanya dalam tempo yang bagi kebanyakan orang sangat singkat.
Ora Umum. apa yang baru saya peroleh adalah sebuah gambaran hidup sebuah fenomena kehidupan bagi orang yang enggan untuk bekerja keras. Sudah enggan bekerja dengan hati, sudah enggan untuk berjalan dengan waktu, enggan untuk bisa menikmati setiap detik apa yang kita lakukan.
Wallahu a’lam.
Dua kata untuk menggambarkan sebuah fenomena kehidupan yang baru saja saya temui.Mengapa demikian?Ya karena apa yang saya peroleh adalah kata-kata begitu tinggi yang membuat orang menjadi takjub dan bengong. Hanya membuang yang kecil demi mendapat yang lebih besar.
Coba bayangkan, apa itu bukan hal yang luar biasa, apa itu bukan hal yang sulit untuk dibayangkan. Hal kecil bisa mendatangan sesuatu yang luar biasa besar. Tapi masih ada yang mengganjal di hati saya. Apa itu?Satu hal yang masih belum saya terima adalah apa tujuan dari semua itu. Semua bicara kemakmuran, semua bicara hal keindahan dunia. Semua bicara hal yang makin membuat orang semakin hanyut dan hanyut akan kesenangan dunia.
Jujur saya bukan orang yang munafik, saya juga butuh uang. Saya butuh status sosial, saya juga ingin orang memandang saya adalah bahwa saya orang yang sukses dan memiliki banyak materi.
Oke saya coba berandai – andai.Jika uang sudah bukan masalah yang sulit bagi saya, jika materi bukan hal yang jauh untuk dikejar, jika kesenangan hidup sudah jadi teman bahkan sahabat dalam tiap detik kehidupan. Lalu bagaimana dengan hal rohaniah yang merupakan hal terpenting(menurut saya)?apa mungkin saya bisa menjadi bijaksana jikalau semua impian itu sudah nyata dihadapan mata?.
Ora umum..pasti ora umum.Semua seolah – olah layaknya sebuah “miracle” keajaiban yang hanya sedikit waktu bisa merubah nasib seseorang. Ora umum karena materi dan status sosial bisa menjadi sedemikian akrab mengisi setiap relung sendi kehidupan hanya dalam tempo yang bagi kebanyakan orang sangat singkat.
Ora Umum. apa yang baru saya peroleh adalah sebuah gambaran hidup sebuah fenomena kehidupan bagi orang yang enggan untuk bekerja keras. Sudah enggan bekerja dengan hati, sudah enggan untuk berjalan dengan waktu, enggan untuk bisa menikmati setiap detik apa yang kita lakukan.
Wallahu a’lam.
Subscribe to:
Comments (Atom)